13 Hadits Tentang Bid’ah |
AlQuranPedia.Org – Secara bahasa bid’ah
artinya perkara baru. Sementara di dalam istilah syar’i bid’ah adalah suatu
amalan baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat.
Hadits mengenai bid’ah sangatlah masyhur dan sangat banyak sekali di dalam
riwayat-riwayat. Semua riwayat menunjukkan bahwa bid’ah itu semuanya sesat
(dholalah), tidak ada istilah bid’ah hasanah.
'Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”
(Lihat Al-Banah Al-Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy-Syamilah)
Pada tulisan kali ini kita akan membahas
mengenai hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bid’ah.
Simak selengkapnya di bawah ini.
1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى
أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan
agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no.
2697 dan Muslim no. 1718)
2
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً
لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka
amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)
3
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah
biasanya beliau mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara
agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”
(HR. Muslim no. 867)
4
Dalam riwayat An-Nasa'i,
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ
فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ
كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
“Barangsiapa yang
diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang
disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya.
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara
adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang
diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap
kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Syaikh
Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An-Nasa’i)
5
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوصِيكُمْ
بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا
بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap
mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah
seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup
sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi
kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang
mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia
dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan
karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah
adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan
shahih”)
6
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَ اللهَ حَجَبَ
التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia
meninggalkan bid’ahnya” (HR.
Ath-Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)
7
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ
عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا
أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى .
يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan
mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa
orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka
dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini
adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka
ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049)
8
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّهُمْ مِنِّى .
فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ
بَدَّلَ بَعْدِى
“(Wahai Rabb),
sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau
tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang
yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050)
Al ‘Aini rahumahullah ketika menjelaskan hadits ini beliau berkata:
“Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal
oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi,
dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap
orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu
tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah
orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga
orang-orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq.
Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan
mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan
hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)
9
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انَّهُ سَيَلِي
أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً
، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ” ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : يَا
رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ ؟ قَالَ : ” لَيْسَ يَا ابْنَ
أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ” ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku
nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat
bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud
lalu bertanya: ‘apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’. Nabi
bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada
Allah'”. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860.
Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihah, 2864)
10
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ مَنْ
أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ
الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ
وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ
مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا
“Barangsiapa yang
sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan
mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah
dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan
dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa
mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”)
11
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
يا رسولَ اللهِ !
إنا كنا بشرٌ . فجاء اللهُ بخيرٍ . فنحن فيه . فهل من وراءِ هذا الخيرِ شرٌّ ؟ قال
( نعم ) قلتُ : هل من وراءِ ذلك الشرِّ خيرٌ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : فهل من وراءِ
ذلك الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : كيف ؟ قال ( يكون بعدي أئمةٌ لا يهتدون
بهدايَ ، ولا يستنُّون بسُنَّتي . وسيقوم فيهم رجالٌ قلوبُهم قلوبُ الشياطينِ في
جُثمانِ إنسٍ ) قال قلتُ : كيف أصنعُ ؟ يا رسولَ اللهِ ! إن أدركت ُذلك ؟ قال (
تسمعُ وتطيع للأميرِ . وإن ضَرَب ظهرَك . وأخذ مالَك . فاسمعْ وأطعْ )
“Wahai Rasulullah,
dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam),
dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang
kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kebaikan? Nabi
bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’.
Aku bertanya: ‘Apa itu?’. Nabi bersabda: ‘akan datang para pemimpin yang tidak
berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup
diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad
manusia’. Aku bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika
mendapati mereka?’. Nabi bersabda: ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada
penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah
mendengar dan taat’” (HR. Muslim no.1847)
Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang
pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan
kebid’ahan.
12
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَّلُ مَنْ
يُغَيِّرُ سُنَّتِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ
“Orang yang akan
pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi
Ashim dalam Al Awa’il, no.61, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah
1749)
Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang
mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah-ubah ini adalah kebid’ahan.
13
Disebutkan dalam hadits,
جَاءَ ثَلَاثَةُ
رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،
فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا ، فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا ، فَإِنِّي
أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا
أُفْطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ
أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ
، فَقَالَ : ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ، أَمَا وَاللَّهِ
إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ ،
وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي
فَلَيْسَ مِنِّي
“Ada tiga orang
mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya
tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Setelah diberitakan kepada
mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka
berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata,
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang
lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan
aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita
dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata
begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada
Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga
berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang
benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no. 5063)
Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan
kebid’ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa
setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk
ibadah yang bid’ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa
mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bid’ah. Oleh karena itu
Nabi bersabda “Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku“.
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela
bid’ah, namun apa yang kami nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya
dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.
Sumber: muslim.or.id
Semoga bermanfaat.
Diselesaikan pada 29 Dzulqaidah 1439 Hijriyah/11 Agustus
2018 Masehi.
*Afwan Ustadz, Lebih ditingkatkan dakwahnya, jangan terus2an ayat, tentang fiqih, aqidah, terima kasih banyak bisa berbagi juga mbahKung dengan angg WA, insyaa Allah MANHAJ SALAF makin berkembang. Aamiin ya Robbal Alaamiin.* mbahKung selalu ikutin alquranpedia.org
ReplyDelete